Tata Cara Berwudhu yang Sesuai Al-hadist dan Al-qur’an

715
tata cara berwudhu
http://mauhijrah.com

Tata cara berwudhu – Pada kesempatan yang berbahagia kali ini kami akan memberika edukasi sedikit tentang tata cara berwudhu sesuai al-qur’an dan al-Hadist yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw, in sya Allah. Berwudhu merupakan syarat sahnya sholat yang harus dipenuhi bagi setiap muslim yang akan menunaikannya.

selain itu kita harus bersih dari najis dan hadas besar maupun kecil, baik itu dari pakaian, sarung, dan yang hendak kita pakai untuk sholat.

Sebelum kita melanjutkan pembahasan tentang tata cara berwudhu alangkah baiknya bila kita mengetahui terlebih dahulu apa itu wudhu, hukum wudhu, rukun-rukun wudhu dan lain sebagainya.

Pengertian Wudhu

tata cara berwudhu
https://i2.wp.com

Wudhu menurut bahasa ialah bersih dan indah. Sedangkan menurut istilah dalam syari’at artinya menggunakan air pada bagian anggota badan tertentu saja dan dengan tata cara berwudhu yang telah ditentukan oleh Rasulullah saw, yang dimulai dengan niat guna untuk menghilangkan hadast kecil.

Wudhu merupakan salah satu syarat sahnya shalat seseorang, seperti yang telah diterangkan oleh hadits Rasulullah saw.

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kamu sampai ia berwudhu.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hukum Wudhu Wajib

tata cara berwudhu
www.hipwee.com

Hukum wudhu menjadi fardhu atau wajib apabila seseorang akan melakukan hal-hal yang seperti berikut :

  • Menunaikan shalat

Apabila seseorang hendak melasanakan shalat baik shalat fardhu maupun shalat sunnah. Seperti yang telah dijelaskan dalam al-qur’an surah Al-Maidah, ayat 6 yang berbunyi.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Maidah : 6)

  • Melakukan tawaf

Menurut mayoritas ulama, orang yang berhadats besar maupun kecil tidak boleh bertawaf mengelilingi Ka’bah. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasululllah saw bersabda :

الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ فَأَقِلُّوا مِنْ الْكَلَامِ

Thawaf di Ka’bah seperti shalat, namun di dalamnya dibolehkan sedikit bicara.” (HR. An Nasai no. 2922)

Hukum Wudhu Sunnah

Sedangkan yang bersifat sunnah ialah bila kita hendak melakukan hal-hal sebagai berikut :

  • Ketika hendak tidur

Rasulullah saw menganjurka kita untuk mengambil air wudhu kita kita hendak tidur. Seperti hadist yang dibawah ini

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا“

Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’”(HR. Ibn Hibban).

  • Ketika membaca Al-Qur’an

Hukum berwudhu ketika membaca al-qur’an adalah sunnah, bukan wajib. Berbeda dengan menyentuh mushaf menurut jumhur ulama.

Syarat Sahnya Wudhu

  • Islam
  • Tamyiz, yakin bisa membedakan baik buruknya suatu perbuatan
  • Tidak berhadast besar dan kecil
  • Dengan air yang suci lagi mensucikanإِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ“Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.”(HR. Tirmidzi)
  • Tidak ada sesuatu yang menghalangi air sampai ke anggota tubuh, misalnya kertas yang menempel, cat, tinta, dan lain sebagainnya.

أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ  ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ ، فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّ

“Ada seseorang yang berwudhu dan mininggalkan satu tempat di kakinya (tidak dibasuh), kemudian Nabi sallallahu’alaihi wa salam melihatnya, maka beliau bersabda, kembali dan perbaiki wudhu anda, maka dia kembali kemudian dia shalat.” (HR.Muslim)

Rukun-Rukun Wudhu

  • Niat dalam hati   Yang dimaksud dengan niat ialah keinginan (al-qosd) dankehendak (al-irodah). Sedangkan yang dimaksud atau yang namanya keinginan dan kehendak yaitu pastilah dalam hati, sehingga niat ialah letaknya dalam hati.

Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Letak niat adalah di dalam hati bukan di lisan. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin dalam segala maca ibadah termasuk shalat, zakat, haji, thoharoh,  puasa, dan yang lainnya.

Ibnu Qayim rahimalhullah mengatakan, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam – di awal wudhu tidak pernah mengucapkan “Nawaitul Wudluu a Liraf’il Hadastil Ashghari Fardlan Lillahita’ala”. Artinya : “Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil, fardhu karena Allah”

  • Membasuh wajah – Membasuh seluruh bagian wajah mulai dai tumbuhnya rambut dari kepala samapai bawah dagu, dan dari telinga kanan dan telinga kiri.
  • Membasuh tangan sampai siku – Membasuh tangan kanan dan tangan kiri sampai siku
  • Mengusap kepala – Membasuh rambut sampai ke tengkuk kepala (tengkorak kepala)
  • Mencuci kedua kaki sampai mata kaki – Mencuci kaki kanan dan kiri sampai mata kaki dan menyela-nyela belahan jari-jemari kaki kanan dan kiri.
  • Berurutan / tertib –Yaitu mendahulukan mana yang harus di dahulukan dan mengakhirkan mana yang semestinya diakhirkan dan tidak boleh di acak.

Sunnah Wudhu

Membaca basmallah pada permulaan wudhu –  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بـ ” بسم الله ” فهو أبتر ” ، أي: ناقص البركة.

“Setiap perkara (kehidupan) yang tidak dimulai dengan BISMILLAAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM, maka dia akan terputus. Artinya adalah kurang barakahnya” (HR. Ibnu Hibban)

Mencuci telapak tangan – Mencuci telapak tangan ini dihukumi sunnah (bukan wajib) karena hal ini tidak terdapat atau disebutkan dalam ayat tentang wudhu yaitu surah Al-maidah ayat 6.

Berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung – Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air ke lubang hidungnya (istinsyaq), lalu ia keluarkan (istintsar).” (HR. Muslim, no. 237)

Yang disunnahkan adalah mubalaghah dalam istinsyaq (serius dalam memasukkan air dalam hidung) artinya menghirup air ke pangkal hidung sebagaimana diterangkan dalam Al-Mughni, 1:147. Dalam hadits diperintahkan,

وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

Seriuslah dalam memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) kecuali dalam keadaan berpuasa.” (HR. Abu Daud, no. 142; Ibnu Majah, no. 448; An-Nasa’i, no. 114. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Mengulang pergerakan wudhu / tastlis

Mengulang pergerakan wudhu sebanyak tiga kali hukumnya adalah sunnah bukan wajib. Namun mengulang pergerakan wudhu sebanyak tiga kali lebih dianjurkan supaya wudhunya lebuh sempurna.

Membasuh telinga

Imam Asy-Syaukani rahimallahullah berkata bahwa para ulama berselisih pendapat tentang mengusap kedua telinga. Al-Qasimiyah, Ishaq bin Rahuyah, Ahmad bin Hambal menyatakan mengusap telinga termasuk bagian dari rukun wudhu. Sedangkan pendapat ulama lainnya menganggap mengusap telingan tidak wajib atau masuk kedalam sunnah-nya wudhu.

Membaca doa

Setelah selesai wudhu kita disunnahkan untuk membaca doa sambil mengahap ke arah kiblat dengan mengangkat kedua tangan. Jika kita wudhu dikamar mandi hendaknya kita berwudhu diluar kamar mandi. Hukum doa setelah wudhu adalah sunnah, namun alangkah baiknya jika kita mengamalkannya.

Hal yang Membatalkan Wudhu

tata cara berwudhu
http://www.nu.or.id
  1. Hilang akal, seperti mabuk, gila, pingsan.
  2. Segala sesuatu yang keluarnya dari dua lubang yaitu kubul (penis dan vegina) dan dzubur (anus) atau keluar dari salah satunya.
  3. Menyentuh kemaluan dengan kedua tangan secara langsung dengan tanpa adanya penghalang, seperti kain dll.
  4. Tidur, namun apabila tidurnya dengan duduk dan masih dalam keadaan semula (tidak berubah dari duduknya). Namun lebih dianjurkan untuk berwudhu kembali demi menjaga kesempurnaan wudhu kita.
  5. Bersentuhan kulit lkhwan (laki-laki) dengan Akhwat (perempuan) dengan syarat sebagai berikut :
  • Ikhwan (laki-laki) dengan Akhwat (perempuan) tersebut bukan mahram (orang yang tidak boleh dinikahi).
  • Ikhwan dengan Akhwat tersebut sudah aqil baliq atau dewasa (bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk)
  • Tidak ada penghalang diantara kulit Ikhwan (laki-laki) dengan Akhwat (perempuan)

Doa Sebelum dan Sesudah Wudhu

tata cara berwudhu
http://www.idmuslim.com
  • Doa sebelum wudhu yaitu membaca بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Ibnu Qayim rahimalhullah mengatakan, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam – di awal wudhu tidak pernah mengucapkan “Nawaitul Wudluu a Liraf’il Hadastil Ashghari Fardlan Lillahita’ala”. Artinya : “Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil, fardhu karena Allah”

  • Doa setelah wudhu

اَشْهَدُ اَنْ لآّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Artinya :
“Aku mengaku bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku mengaku bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan Utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci (sholeh)”

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Ketika Wudhu

tata cara berwudhu
http://mediamuslimah.com

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam berwudhu. Jika kita mengabaikannya maka wudhu yang kita lakukan bisa jadi tidak sempurna atau bahkan tidak sah.

Sadarkah kita bahwa banyak kelalaian yang sering kita lakukan setiap kali kita melaksanakan wudhu. Bahkan terkadang kita sering tidak memperhatikan tahapan demi tahapan saat berwudhu.

1. Persiapan

yang perlu kita perhatikan pertama saat kita hendak mengambil air wudhu yaitu memeriksa bagian tubuh kita apakah ada yang menghalangi kulit untuk tersentuh air. Semisal tinta atau coretan ditangan, kain dan lain sebagainya.

2. Terburu-buru

Terburu-buru dalam melaksanakan pekerjaan itu sangat tidak baik karena terburu-buru adalah perbuatan syaiton, dan setiap perkerjaan yang dilakukan dengan terburu-buru biasanya hasilnya tidak baik dan bahkan bisa tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

Ketika berwudhu dilakukan dengan terburu-buru maka sengat rentan terjadi kesalahan bahkan bisa menimbulkan tidak sempurna-nya wudhu itu sendiri.

2. Jenis air

Yang perlu kita perhatikan selanjutnya yaitu jenis air yang akan digunakan untuk berwudhu. Perihal jenis air yang digunakan untuk berwudhu dalam fiqih memang banyak sekali pendapat dari para ulama.

Namun semua kita memiliki keyakinan dan jika memang sudah yakin dengan satu ra’yun atau pendapat ulama tentang suatu hukum maka laksanakan itu dengan keyakinan penuh.

Jenis-Jenis Air Dalam Wudhu

tata cara berwudhu
http://www.depokpos.com
  1. Air Suci yang Mensucikan
  • Air mutlak yang belum tercampun oleh apapun
  • Air hujan

“Dan Kami turunkan dari langit air yang suci lagi mensucikan.” (QS. Al-Furqan: 48)

  • 3. Air sumur, telaga, dan air sungai

“Bahwa Rasulullah Saw meminta seember penuh dan air zamzam, lalu diminumnya sedikit dan dipakainya buat berwudhuk.” (HR Imam Ahmad dalam Musnadnya (I/76))

  • 4.  Salju dan embun

اللهم اغسلني من خطاياي بالثلج والماء والبرد

“Ya Allah, bersihkanlah dosa-dosaku dengan air, salju dan embun”.(HR.Bukhari, no: 744 dan Muslim, no: 598 dan selain keduanya).

  • 5. Air laut

Seorang laki-laki menanyakan kepada Rasulullah, katanya: “Ya Rasulullah, kami biasa berlayar di lautan dan hanya membawa air sedikit. Jika kami pakai air itu untuk berwudhuk, akibatnya kami akan kehausan, maka bolehkah. kami berwudhuk dengan air laut?” Berkatalah Rasulullah Saw : “Laut itu airnya suci lagi mensucikan, dan bangkainya halal dimakan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatho’ (1/22)

2. Air Suci Tetapi Makruh Digunakan untuk Bersuci

  • Air yang panas karena karena ditakutkan bisa menibulkan sakit pada kulit dan ditakutkan orang yang menggunakannya tidak bisa menyempurnakan wudhunya.
  • Air musyammas, yaitu air yang dipanaskan dengan matahari

3. Air Suci Tetapi Tidak Dapat Mensucikan

  • Air mustak’aml yaitu air yang telah digunakan untuk bersuci menghilangkan hadats dan najis walaupun tidak berubah rupanya. rasanya dan baunya.
  • Air mutlak yang berubah sifatnya, yaitu air yang sudah tercampur dengan air teh, kopi, sirup, dan lain sebagainya.
  • Air mutanajis, yaitu air yang terkena najis dan  jumlahnya kurang dari dua kullah. Tetapi apabila airnya labih dari dua kullah dan tidak merubah warna dan rasanya makan air dapat digunakan untuk bersuci.

Dua kullah sama dengan ya kurang lebih 216 liter, tatapi jika berbentuk bak maka besarnya=panjang 60 cm dam tinggi 60 cm. Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya.” (HR. Ibnu Majah dan Ad Darimi)

Tata Cara Berwudhu Yang di Ajarkan Oleh Rasulullah saw

tata cara berwudhu
http://sunnah.life
  • Niat berwudhu 

Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Letak niat adalah di dalam hati bukan di lisan. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin dalam segala macam ibadah termasuk shalat, zakat, haji, thoharoh,  puasa, dan yang lainnya.

Ibnu Qayim rahimalhullah mengatakan, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam – di awal wudhu tidak pernah mengucapkan “Nawaitul Wudluu a Liraf’il Hadastil Ashghari Fardlan Lillahita’ala”. Artinya : “Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil, fardhu karena Allah”

  • Mencuci kedua telapak tangan 

Mencuci tangan sambil meyela-nyela jari-jemari tangan yang dimulai dari tangan kanan dan kemudaia tangan kiri sambil diiringi membaca basmallah “bismillahir-rahmanir-rahim”

  • Berkurmur-kumur dan memasukkan air kedalam hidung

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنَ الْمَاءِ ثُمَّ لْيَنْتَثِرْ

Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air ke lubang hidungnya (istinsyaq), lalu ia keluarkan (istintsar).” (HR. Muslim, no. 237)

Ibnu Qayyaim menyebutkan “ketika berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung (istinsyaq), terkadang Nabi mengunakan satu ciduka tangan, terkadang dua kali cidukan dan terkadang juga tiga cidukan.

Sebagaimana disebutkan dalam shahihain[10] dari ‘Abdullah bin Zaid bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tamadh-madho (berkumur-kumur) dan istinsyaq (memasukkan air dalam hidung) melalui air satu telapak tangan dan seperti ini dilakukan tiga kali.

Dalam lafazh yang lain disebutkan bahwa tamadh-madho (berkumur-kumur) dan istinsyaq (memasukkan air dalam hidung) melalui tiga kali cidukan. Inilah riwayat yang lebih shahih dalam masalah kumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air dalam hidung).

  • Membasuh muka 

و الثاني غسل جميع الوجه وحدّه طولاً ما بين منابتشعر الرأس غالباً وآخر اللحيين، وهما العظمان اللذان ينبت عليهما الأسنان، السفلى يجتمع مقدمهما في الذقن، ومؤخرهما في الأذنين وحدّه عرضاً ما بين الأذنين.

Artinya; dan fardu kedua adalah membasuh wajah. Batasan panjang wajah adalah anggota di antara tempat-tempat yang umumnya tumbuh rambut kepala dan pangkalnya lahyaini (dua rahang). Lahyaini adalah dua tulang tempat tumbuhnya gigi bawah. Ujungnya bertemu di janggut dan pangkalnya berada di telinga. Dan batasan lebar wajah adalah anggota di antara kedua telinga.

  • Membasuh tangan sampai ke siku

Membasuk tangan kanan terlebih dahulu kemudian dilanjut dengan tangan yang sebelah kiri hingga / sampai ke siku boleh satu tapi lebih dianjurkan tiga kali. Apabila tidak sampai kesiku maka wudhu nya tidak sempurna.

وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

“dan tanganmu sampai kesiku-siku…..” (QS. Al-maidah ayat : 6)

  • Membasuh kepala

Membasuh kepala dari kening hingga tengkuk kepala sekaligus dengan mengusap daun telinga dengan cukup satu kali saja.

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membasuh kepalanya seluruh dan terkadang beliau membasuh ke depan kemudian ke belakang. Sehingga dari sini sebagian orang mengatakan bahwa membasuh kepala itu dua kali. Akan tetapi yang tepat adalah membasuh kepala cukup sekali (tanpa diulang).

Allah Ta’ala berfirman,

وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ

Dan basuhlah kepala kalian.” (QS. Al Maidah: 6)

  • Mencuci kedua kaki hingga mata kaki

Mencuci kaki dimulai dari sebelah kaki kanan kemudia di lanjutkan dengan kaki kiri hingga mata kaki.

Dalam riwayat Muslim, disebutkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr berkata,

رَجَعْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِمَاءٍ بِالطَّرِيقِ تَعَجَّلَ قَوْمٌ عِنْدَ الْعَصْرِ فَتَوَضَّئُوا وَهُمْ عِجَالٌ فَانْتَهَيْنَا إِلَيْهِمْ وَأَعْقَابُهُمْ تَلُوحُ لَمْ يَمَسَّهَا الْمَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ

“Kami pernah kembali bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah menuju Madinah hingga sampai di air di tengah jalan, sebagian orang tergesa-gesa untuk shalat ‘Ashar, lalu mereka berwudhu dalam keadaan terburu-buru. Kami pun sampai pada mereka dan melihat air tidak menyentuh tumit mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Celakalah tumit-tumit dari api neraka. Sempurnakanlah wudhu kalian.” (HR. Muslim, no. 241).

  • Do’a

Setelah kita selesai berwudhu makan kita disunnah-kan untuk berdo’a dengan cara mengangkat kedua tangan dan sambil menghadap kearah kiblat dengan membaca :

اَشْهَدُ اَنْ لآّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Artinya :
“Aku mengaku bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku mengaku bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan Utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci (sholeh)”

Demikianlah tata cara berwudhu yang sesuai Al-haits dan al-Qur’an yang telah di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, semoga bermanfaat dan kita bisa mengamalknya dalam keseahrian kita, Aamiin. Wallahu Aklam!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here