Pengalaman Mendaki Bukit

 

Sebelumnya saya sama sekali belum pernah mendaki, bukan karena saya tidak mau, akan tetapi tidak memiliki modal untuk membeli peralatan pendakian. Ditambah orang tua tidak pernah memberikan restu untuk mendaki. Yaaa maklum pada waktu itu saya masih berusia 17 tahun dan masih duduk dibangku SMA.

Beberapa ajakan mendaki dari temen-temen selalu saya tolak. Meski sebenarnya dalam hati kecil saya ingin memulai untuk mendaki dan  Merasakan lelahnya perjuangan mendaki, kebersamaan bersama temen-temen dalam menaklukkan tingginya bukit, dan menikmati indahnya pemandangan yang diciptakan oleh Allah SWT.

Di usiaku yang ke 18 tahun, lebih tepatnya waktu itu saya masih duduk di kelas tiga Sekolah menengah atas (SMA). Banyak diantara temen-temen SMA saya adalah seorang pencinta alam, pendaki, dan terutama temen-temen pramuka. Di sela-sela waktu istirahat mereka sering membicarakan seputar alam dan pendakian. Membicarakan hal-hal yang terkadang sama sekali tidak saya mengerti.

Semangat, tekad, dan keinginan untuk mendaki masih tersimpan sempurna di dalam hati saya, hanya tinggal menunggu kondisi dan waktu yang tepat untuk memulai menjelajah dan mendaki.

Ajakan Demi Ajakan Muncul Kembali

Masa-masa SMA tidak lama lagi akan segera berakhir, lagi-lagi temen satu angkatan terutama temen-temen pramuka mengadakan rapat kecil-kecilan, didalam rapat tersebut meraka banyak membahas topik dan salah satunya adalah mendaki bukit. Waktu itu saya masih tidak yakin bisa bergabung untuk mendaki bersama mereka,  karena setiap kali saya membicarakan hal tersebut ibu saya seketika memberhentikan pembicaraan dan mengganti topik yang lain.

Waktu terakhir latihan pramuka, lagi-lagi temen saya membicarakan pendakian bahkan bukan hanya pendakian saja, mereka mengajak saya untuk menjelajah hutan dan sungai komering yang berada tidak jauh dari tempat kami sekolah. Namun saya tidak bisa ikut karena lagi-lagi saya tidak mendapatkan izin dari ibu saya.

Dua minggu sebelum pelaksanaan UN (ujian nasional) temen satu kelas saya lagi-lagi membicarakan hal yang sama yaitu ndaki, ndaki, dan ndaki. Waktu itu saya masih belum bisa bergabung karena orang tua saya masih belum memberikan izin, bukan hanya itu saja pas kebetulan waktu itu saya harus ikut kakak saya keluar kota karena ada keperluan keluarga yang harus di selesaikan.

Pendakian Pertama

Setelah UN (ujian nasional) selesai orang tua telah memberikan kebebasan kepada saya, tidak seperti waktu kegiatan belajar mengajar masih aktif. Akhirnya saya pun memiliki peluang yang besar untuk bisa mewujudkan keinginan saya untuk memulai mendaki, karena orang tua saya sudah pasti memberikan izin kepada saya.

Pendakian pertama saya pun di mulai dengan mendaki bukit Bedil yang berada di daerah Way Salak, bukit bedil merupakan bukit yang tertinggi kecamatan Jayapura, Kabupaten OKU Timur. Pada awal bulan Agustus tahun 2014 kalo nggak salah, maklum sudah lama sih jadinya lupa-lupa ingat hehehe ;)). Lanjuuuut, saya dan temen-temen satu kelas pun memutuskan untuk mendaki pada akhir bulan agustus.

Tentang Bukit Bedil

 

SRiPOKU.COM/EVAN HENDRA

bukit bedil bisa dikatakan lokasi tertinggi di wilayah OKU Timur dengan ketinggian sekitar 442 Meter Diatas Permukaan Laut (MDPL). Bukit bedil berlokasi beberapa kilometer dari kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur yang berlokasi di Kecamatan Jayapura. Bukit tersebut kerap dijadikan ramaja sebagai lokasi untuk bertamasya atau haanya sekedar camping menikmati pemandangan OKU Timur dari ketinggian.

Nama bedil yang disematkan pada bukit tersebut bukan hanya karena sekilas mirip atau berbentuk bedil, namun menurut cerita masyarakat sekitar dipuncak bukit tersebut setiap beberapa minggu sekali selalu terdengar sebuah ledakan seperti ledakan bedil yang menggema dan terdengar dengan sangat jelas.

“Kalau suara bedil memang sudah ada sejak kami kecil. Menurut orang tua dulu suara itu sudah ada sejak dulu. Suaranya kadang terdengar pagi hari, kadang juga siang hari atau malam hari. Suara dentumannya persis seperti suara bedil,” katanya. Selain memiliki cerita mengenai suara tembakan yang berasal dari puncak bukit bedil, di bukit tersebut juga terdapat sebuah tugu yang diduga merupakan tugu titik koordinat atau disebut sebagai Tugu Triangulasi (pemetaan wilayah oleh kolonial belanda).

Sebuah tugu yang berbentuk segi empat yang memiliki tinggi sekitar 130 Centimeter (Cm) dan memiliki tulisan TRIANG NO.32 di bagian tengahnya. Dan tugu tersebut sudah berada di puncak bukit tersebut sejak puluhan tahun yang lalu. “Sejak kami kecil tugu tersebut sudah ada. Diatas bukit itu juga ada sisa-sisa helipad (pendaratan helikopter)  yang kerap digunakan helikopter untuk mendarat diatas bukit tersebut,” katanya.

Berdasarkan cerita turun temurun kata Akrom, tugu tersebut diyakini dibangun sejak pada saat penjajahan kolonial belanda yang berfungsi untuk pemetaan wilayah. Dia mengaku tidak ada cerita khusus mengenai keberadaan tugu tersebut baik kapan dibangun dan apa fungsinya.

“Bukit bedil adalah bukit yang tertinggi untuk wilayah OKU Timur. Kalau bukit yang ada di sekitar bukit bedil tersebut lebih rendah, kalau dilihat dari atas bukit bedil, semua wilayah terlihat indah, bahkan wilayah Lampung juga bisa terlihat. Karena keunikan dan keindahan bukit tersebut banyak pumuda yang ingin mendaki dan melihat keindahan wilayah OKU Timur secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.

Persiapan Mendaki

Persiapan yang dilakukan untuk melakukan pendakian ini terbilang tergesa – gesa. Satu hari sebelum keberangkatan kami baru melakukan pertemuan untuk membahas segala hal yang ingin dipersiapkan dan sekiranya dibutuhkan. Lebih parahnya lagi kami (satu kelas) tidak ada yang tahu rute pendakian yang harus kami lalui nanti, karena temen-temen saya beru pertama kalinya mendaki bukit bedil.

Memang meraka sudah biasa mendaki bahkan diantara salah satu mereka sudah ada yang pernah menndaki gunung juga, tetapi mereka baru pertama kalinya mendaki bukit bedil sama seperti saya. Yaaa jadinya kami satu hari sebelum pendakian dimulai kami mencari infomasi tentang bukit bedil dan rute yang biasa dilewati dengan pendaki-pendaki yang lainnya.

Perjuangan

pexesl

 

Pada hari minggu Setelah melakukan pertemuan kami pun memutuskan untuk berkumpul di bescam yaitu tempat perumahan warga yang tidak jauh dengan kaki bukit tersebut. Karena jarak rumah saya dan bescam sangat jauh saya pun memutuskan untuk membawa motor sendiri bersama satu temen saya yang rumahnya tidak jauh dengan rumah saya.

Ditengah perjalan menuju bescam ditaba-tiba motor yang dibawa temen saya mogok dan harus dibawa ke kebengkel, setelah motor telah selesai di perbaiki kami pun langsung bergegas menuju bescam. Kurang lebih satu atau dua kilo meter lagi sampai di bescam giliran motor saya yang tiba-tiba remnya blong dan bannya bocor, lagi-lagi kami harus ke bengkel lagi. Akhirnya kami pun sampai di bescam dengan selamat yaaa walaupun ditengah perjalan kami banyak halang dan rintangannya.

Setelah semuanya berkumpul di tempat bescam yang telah ditentukan kami pun segera melakukan pendakian. Baru saja masuk dikaki bukit kami sudah salah jalan maklum pertama kali jadinya salah-salah jalan jalan deh, untung saja di kaki bukit masih banyak warga yang melintas dan kami pun bisa bertanya.

Ditengah-tengah perjalan saat mendaki kami disugukan dengan indahnya pemandanagan kebun dan sawah yang  milik warga sekitar, dan kami pun lebih bersemangat dalam mendaki adar segera sampai di puncak bukit tertinggi di OKU Timur. Setelah istirahat dan menikmati indahnya pemandangan Lagi-lagi kami salah jalan lagi dan parahnya disitu sudah tidak ada warga yang melintas maupun yang dikebun, dan akhirnya kami pun memberanikan diri untuk mencari jalan pintas.

Setelah Hampir delapan jam kami muter-muter dibukit bedil akhirnya kami pun sampai dipuncak tertinggi di OKU Timur, dan perjuangan yang melelahkan (khususnya buat saya) akhirnya terbayar lunas dengan indahnya pemandangan perkebunan dan kota Martapura disore hari.

Penutup

Saya bersama teman sangat berterimakasih kepada warga baik hati yang bersedia menolong kami, Allah menyelamatkan kami dengan mengirimkan waraga kepada kami. Dan dalam perjalan saat mendaki kita bisa melihat siapa yang benar-benar sahabat dan siapa yang hanya sekedar berteman bisa.

Jangan pernah membuat kesalahan sekecil apapun saat kamu melakukan pendakian terlebih-lebih kamu belum perpengalam dalam mendakai karena bisa-bisa nyawa adalah taruhannya.

Semoga tulisan yang tak beraturan ini bermanfaat dan menjadi sebuah pelajaran kita semua, terkhusus buat saya pribadi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *