Kisah Masa Kecilku

Aku rindu masa kecilku yang dulu, Masa-masa yang telah lama aku tinggalkan. Masa kecil yang penuh kebahagian, kenangan yang menyenangkan, karena yang menyakitkan tak pernah mau ku kenang. Aaah bagi ku sekarang semua cerita masa kecilku dulu menyenangkan yaa walaupun ada beberapa yang tidak menyenangkan.

Masa-masa kecil ku saya habiskan dengan orang yang sangat aku cintai bahkan sudah saya anggap seperti ibu kandungku sendiri yaitu kakak dari ibu saya, biasanya sih aku manggilnya mamak. Dan masa-masa yang aku habiskan bersama teman-teman kampungku.

Anak-anak kampung yang hanya kenal dengan bermain dan bikin susah orangtua . Aai… betapa indahnya pada waktu itu dan betapa besarnya anugerah yang diberikan oleh Allah, anugerah pengalaman hidup yang begitu mengesankan itu.

Akan aku goreskan kenangan itu, tidak hanya di dalam ingatan, tapi juga dalam guratan kata-kata yang ku rangkai menjadi sebuah kisah. Kisah masa kecil ku. Oh….begitu banyaknya hingga aku bingung mau memulainya dari mana. Tapi selebihnya, menulis kisah ini begitu mengasyikkan.

Contents

Bermain di Sawah

deweezz.com

Tak jarang juga kami menyatu dengan alam, dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Meski siang-siang, terik matahari yang panas, kami tak peduli. Kami adalah sahabat matahari, dan tak ada yang perlu di takuti.

Salah satu kegiatan kami adalah membuat perangkap ikan di tengah-tengah sawah. Menggiring ikan-ikan kecil masuk ke dalam perangkap. Berteriak senang saat mendapati perangkap terisi dengan ikan-ikan kecil (meskipun sebenarnya yang kami dapat saat itu adalah kecebong).

Memasukkannya dalam kantong plastik, bergantian memegangnya, memandanginya yang bergerak gesit dalam air, dan bernyanyi riang sambil menapaki pematang sawah yang sangat becek. Aah… hal sesederhana itu, mampu membuat hati kami berbunga-bunga.

Kegiatan Sore Hari

citraalam.id

Hampir setiap sore hari, aku bermain dengan teman-teman kampungku. Mereka ada banyak dan lucu-lucu, haha :)) . Kadang mereka membuatku tertawa terbahak-bahak dan kadang juga membuat ku menangis dengan keusilannya. Tapi semuanya itu bagiku indah, semua yang aku lakukan bersama teman-teman di kampungku.

Kami punya tempat-tempat favorit untuk bermain. Kami biasa bermain petak umpet, gobak sodor, kasti, beteng, karet, kelereng, lempar sandal, sepak bola atau kejar-kejaran di tanah lapang yang terhampar di depan rumah teman-teman kampungku. Semuanya sangat seru, apalagi kalau sudah main kasti, Bapak-bapak dan Ibu-ibu penonton menyoraki dan kadang tertawa terbahak-bahak melihat aksi kami.

Sejatinya, permainan kasti adalah memukul bola yang dilempar lawan sejauh-jauhnya, tapi yang kami lakukan adalah melempar dan pemukul bola yang sejauh-jauhnya. Begitulah, permainan itu tak pernah serius, tapi cukup untuk memuaskan hati kami. Setidaknya kami sudah pernah mencoba permainan America itu, meski acak-kadut dalam permainannya tapi kami tak peduli, yang penting semuanya HAPPY.

Menangkap Belalang

khasiat.co.id

Di sawah-sawah yang membentang luas, kami mencari ciplukan (buah yang berbentuk bulat sebesar kelereng, berwarna hijau bila mentah, dan berwarna kuning bila sudah masak, rasanya amat manis). Sering juga kami menangkap belalang, berlomba mengumpulkan sebanyak-banyaknya.

Inilah salah satu kebiasaan kami, menangkap belalang yang terkenal dengan gerakan yang sangat gesit, dengan tangan kosong, dengan jurus yang mengejutkan, bagi hewan berkaki enam itu. Kami memiliki keahlian menangkap belalang, tak peduli yang sedang terbang di udara atau yang sedang hinggap di ranting-ranting dan pucuk daun-daun padi, kami bisa menangkapnya tanpa jaring.

Salah satu temanku memasang aba-aba, siap untuk menangkap buruannya. Ia berdiri, mematung. Tangannya direntangkan, dengan telapak tangan terbuka ke atas. Matanya berputar-putar mencari belalang yang lompat kesana-kemari, berharap ada yang mau lewat di berhenti hadapannya.

Tuhan mengabulkan permohonannya. Tak berapa lama, seekor belalang hinggap di samping tubuhnya. Naik. Menukik. Lompat lagi. Dan akhirnya hinggap di atas kepala temanku itu. Dengan cepat, secepat kilat, kedua telapak tangan itu bertemu “puk” menangkap, belalang itu dapat dengan sekali tepuk, hebat bukan.

Ada yang lebih hebat lagi, beberapa temanku bahkan bisa menangkap belalang yang sedang terbang di udara bagai bola yang ditendang kearah gawang. Mereka hanya tinggal melompat, melambaikan tangan, belalang pun dalam genggamannya, luuuar biasa. Aku hanya bisa melakukan itu sekali dua kali saja, selebihnya gagal.

Meski aku tak begitu mahir menangkap belalang yang sedang terbang di udara, aku mahir menangkap belalang yang sedang hinggap di ranting atau pucuk daun. Jika ada belalang yang hinggap, mataku fokus, tanganku mengambil ancang-ancang beberapa cm di samping buruanku.

Setelah aku merasa waktunya tepat (naluri pemburu active ), aku menggerakkan tangan mendatar, cepat, pasti, sepersekian detik, belalang pun tertangkap. Shock, belalang itu terkejut dengan keadaannya sekarang, sayapnya tertangkap dua tangan manusia yang besar, tak bisa terbang. Belalang itu menggeliat, memberontak. Percuma.

Aku memasukkannya ke dalam plastik yang telah dilubangi kecil-kecil agar belalang bisa bernafas di dalamnya. Belalang itu melompat-lompat, mencari jalan keluar. Percuma. Cukup lama. Akhirnya putus asa dan diam.

 

Aku mengamati belalang yang terdiam itu. Bola matanya yang bundar dan besar berputar-putar. Sungguh lucu 😉 . Warna tubuhnya sungguh menawan, di dominasi warna hijau cemerlang, berbelang kuning, sungguh cantik ^-^

Aku duduk, sibuk memandangi belalang tangkapanku. Tak peduli dengan perlombaan menangkap belalang itu. Satu belalang sudah dalam genggaman ku, itu sudah cukup membuat ku puas dan senang.

Belalang itu mengepak-ngepak. Lemah. Entah mengapa aku kasihan terhadap belalang itu. Ia terlihat sangat pasrah, matanya tak lagi berbinar, sayup. Ia semakin lemah. Oh… aku tak ingin melihat belalang itu sampai mati.

Makhluk cantik ini tak boleh mati, tak boleh mati karenaku. Secara tiba-tibah Aku teringat kata-kata Ibu, kalau kita tak boleh menyiksa binatang, dosa. Oh… Tuhan, apa yang sedang aku lakukan?

Akhirnya aku memutuskan. Kuambil belalang itu dari plastik, kujepit sayapnya dengan jariku. Kuangkat ke atas dan ku bebaskan ia. Sayapnya mengepak, sejenak linglung, terbangnya terseok-seok, namun dengan cepat ia menyeimbangkan tubuhnya, terbang ke atas, dan seakan-seakan menoleh ke arah ku, berkata “Terima Kasih”.

Aku melambaikan tangan dan membalasnya “Sama-sama” (jangan pernah meremehkan imajinasi anak-anak, mereka pengkhayal yang sangat hebat).

Kemudian, belalang itu melesat dengan gesit ke udara, tak terlihat lagi. Aku terus menatap kepergiannya. Aku merasa lebih bahagia. Beberapa saat kemudian, temanku menghampiriku, bingung, melihat tanganku yang kosong.

Mandi di Sungai

pixabay.com

Setelah tadi memutuskan berhenti lomba menangkap belalang, kamipun berjalan mencari tempat untuk berteduh sambil berisitahat, ditengah perjalanan salah satu teman dari kami melihat sungai yang jernih dan bersih dan teman yang melihat sungai itupun langsung melompat kedalam sungai tersebut.

Kita semua kaget dan terdiam sejenak ketika melihat aksi lompatan teman saya ke sungai itu, namun tak lama kemudian melihat teman saya yang asik berenang di perairan sungai yang jernih itu, kami pun langsung menyusul untuk melompat kedalam sungai itu, dan akhirnya kami semua mandi di sungai bersama.

Air sungai yang saangat jernih dan bersih ini membuat rasa lelah dan rasa haus kamipun ilang dengan sendirinya, saking asiknya berenang sambil bercanda tawa bersama teman-teman, tak terasa bahwa kita sudah 30 menit lebih mandi di sungai.

Memang cuma sebentar, tapi meskipun cuman mandi sebentar badan kamipun sudah mulai kedinginan. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi mandi disungai ini dan berencana untuk menghangatkan badan yang kedinginan dibawah trik matahari.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *